(Dok Pribadi; Maryono berkacamata, 19 th yang lalu waktu masih di Korea Selatan)
Surabaya 6 Mei 2019. Akhir akhir ini, kewirausahaan
sudah sangat digencarkan oleh pemerintahan Indonesia dan juga para konglomerat
bangsa ini. Dan juga disambut baik oleh masyarakat, baik dari kalangan generasi
muda maupun mereka yang sudah setengah umur.
Kenapa kewirausahaan/entrepreneurship ini digencarkan ??? karena data
dari Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), jumlah pengusaha di Indonesia saat
ini masih 3,1 %. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara negara yang sudah
maju. Padahal, di negara negara yang sudah maju, jumlah pengusaha mencapai 14% dibandingkan dengan jumlah penduduk
secara keseluruhan. Memang banyak sekali Kendala kendala untuk menjadi seorang
pengusaha. Karena seorang pengusaha tidak hanya dituntut memiliki modal, tapi
juga harus memiliki skill dan pengetahuan tentang usaha yang ditekuni. Ada
orang yang sudah memiliki ilmu dan pengetahuan juga skill untuk berwirausaha di
bidang tertentu, tapi tidak memiliki modal. Akhirnya tidak bias juga jadi
pengusaha. Begitu juga sebaliknya, ada orang yang sudah memiliki modal, tapi
tidak memiliki ilmu di bidangnya, sehingga tidak berani terjun ke dunia
wirausaha. Inipun akhirnya tidak bisa
jadi pengusaha. Jadi secara umum, masalah permodalan dan masalah skill juga
menjadi kendala.
Untuk masalah skill, banyak calon wirausaha yang
mendapatkannya dari bekerja atau ikut pada para pengusaha bidang tertentu
sampai bertahun tahun, sehingga ilmu berwirausaha yang dimiliki pengusaha itu
akhirnya juga bisa dimiliki para pembantunya/Calon wirausaha. Sebagai contoh,
banyak anak anak muda yang bekerja pada penngusaha pengrajin kayu jati. Anak
anak muda ini ikut pengusaha tersebut cukup lama, bahkan bias bertahun tahun.
Sehingga, anak anak muda ini bias mewarisi ilmu sang juragan pengrajin kayu
jati ini. Bahkan jika mereka ini dilepas untuk berusaha sendiri, mereka bias
dan sanggup menjalankan. Tapi sayang…mereka ini tidak memiliki modal untuk
menjalankan wirausaha. Mau pinjam ke Lembaga keuangan kemungkinan besar mereka
tidak bisa, karena syarat syaratnya justru hanya bisa dipenuhi oleh pengusaha,
tapi sangat sulit dipenuhi oleh calon pengusaha.
Karena itu, dalam tulisan saya kali ini saya beri
judul “Belajar jadi pengusaha Beras dari Mas Maryono”. Ini kisah nyata mas
Maryono teman saya yang akhirnya bias mewujudkan impianya menjadi pengusaha
beras, meski awalnya hanya Pada Posisi sebagai “Sopir Pengusaha Beras” di
desanya di Jogjakarta. Semoga cerita ini bias menjadi inspirasi.
Maryono lahir dan dibesarkan di salah satu Desa di
Pantai selatan yang masuk wilayah Jogjakarta. Sejak kecil ia hidup hanya
bersama si mboknya(Ibu) saja yang berjualan di pasar. Maryono sendiri, sejak
sekolah sudah sering membantu ibu haji seorang pengusaha beras yang ada di
desanya. Karena ketekunanya dan kerajinanya membantu jual beli beras, akhirnya
bu Haji mempercayai Maryono sebagai sopir untuk proses pengiriman dan
pengambilan beras. Dari sinilah maryono mendapatkan ilmu dan mengetahui product
knowledge beras. Antara lain, beras yang baik itu bagaimana dan dari daerah
mana, cara menentukan harga beli beras yang tepat, cara penyimpanan, cara
pengemasan dan cara pemasaran yang benar. Beberapa tahun ikut bu haji, maryono
merasa sudah cukup ilmunya untuk bisa berdagang beras. Tapi masalahnya
adalah…modal dari mana???? Pinjam bank jelas ga berani, selain persyaratanya
tidak mungkin bisa dipenuhi Maryono. Tapi semangat untuk merubah hidup menjadi
lebih baik dengan jadi pengusaha beras…terus menggebu, tidak pernah padam.
Hingga akhirnya Maryono muda menemukan jalan keluar…yaitu “Bekerja Keluar
Negeri”. Akhirnya Maryono mendaftar ke Agen penyalur tenaga kerja ke luar
negeri. Dan persis seperti yang diinginkan maryono, akhirnya Maryono dapat
bekerja di Korea selatan. Di sinilah saya dan Maryono untuk pertama kali
bertemu. Dari sini, saya tahu apa alasan yang memotivasi Maryono untuk bekerja
ke luar negeri. Singkat cerita, kami tinggal di Korea selatan dalam satu
perusahaan yang sama. Tujuanya juga sama…mengumpulkan uang sebanyak banyaknya
hehehehe. Berbagai masalah dan rezeky menghampiri kita selama 2 tahun. Dan
akhirnya, Maryono berhasil mengumpulkan dana untuk memulai sebagai Pengusaha
Beras di desanya. Persis seperti yang dicita citakan.
Sampai saat ini, sekitar 18 tahun maryono sudah
menjadi pengusaha seperti yang diimpikan. Berjuang sendiri mencari ilmu sebagai
pengusaha beras dengan cara bekerja pada ibu Haji sanga pengusaha beras di
desanya. Dan untuk pemenuhan modal, juga berjuang sendiri selama 2 tahun merantau di negeri orang,
harus berpisah dengan orang orang yang dicintai supaya dapat dana untuk memulai
usaha. Seandainya saja ada yang bisa dan mau membantu permodalan Maryono saat
itu, tentu kesuksesanya bisa lebih cepat. Tidak harus menunggu sampai 2 tahun.
Waktupun bisa dihemat. Tapi jalan hidup Maryono tidak sehemat dan semudah itu,
semudah anak anak konglomerat yang tidak kesulitan modal. Maryono benar benar
berjuang sendiriian. Benar benar
sendirian…Dari Seorang Cantrik sampai jadi pemilik. Yaaa Cantrik di usaha Beras
bu Haji, sampai menjadi Pemilik usaha beras yang dimiliki sendiri.
Demikian artikel saya yang saya sandarkan dari kisah
nyata teman teman seperjuangan merantau di Luar Negeri. Semoga kisa ini menjadi
inspirasi anak anak muda atau siapa saja yang terkendala modal usaha. Masih
banyak jalan menuju Roma. Masih banyak cara yang bisa diupayakan untuk
permasalahan permodalan. Seperti kata om Bob Sadino, kalau tidak punya modal
untuk usaha, maka dibalik saja logikanya. Usaha dulu untuk mengumpulkan modal.
Sesudah terkumpul modalnya, maka tinggal langkah berikutnya…yaitu mengembangkan
usahanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar