(Dok Pribadi). Di kota Suwon Korea Selatan
Surabaya, 6 Mei 2019. Artikel saya kali ini
berkaitan dengan belajar menciptakan atau meningkatkan kedisiplinan. Dan kita
belajarnya kali ini bercermin dari Negeri Dai Han Guk (Republik Korea Selatan).
Bangsa Korea adalah bangsa Han Sehingga mereka menyebut dirinya Dai Han Guk. Sehingga
Sungai besar di Korea dinamakan sungai Han. Dan Baju ada Korea Selatan disebut
HanBok sedangkan hurufnya disebut Han Gel. Itu sepintas tentang bangsa Korea.
Sementara orang Jepang adalah bangsa
Nippon sehingga mereka menyebut dirinya Nippon Guk. Orang China adalah bangsa
Chung, sehingga mereka menyebut dirinya Chung Guk. Mungkin anda bertanya tanya,
kenapa kita belajar kedisiplinan dari negeri Korea Selatan. Berdasarkan
pengalaman penulis selama 2 tahun di Korea Selatan, secara umum kedisiplinan
bangsa Korea Selatan sangatlah tinggi. Sehingga sangat tepat, kalua kita
bercermin atau belajar kedisiplinan dari bangsa korea ini. Dan kedisiplinan ini
juga yang telah membawa bangsa korea selatan mencapai kemajuan yang sangat
tinggi saat ini.
Sebelum kita melihat
dan belajar dari kedisiplinan bangsa Korea Selatan, maka ada baiknya kalua kita
pahami dulu Disiplin adalah hal yang utama. Para pakar dan praktisi
pengembangan sumber daya manusia sering menyebutkan, selain Atitude hal yang
sangat utama dalam pengembangan Sumber Daya Manusia adalah kedisiplinan. Lantas
apa artinya disiplin. Dari berbagai sumber termasuk dari kamus Besar Bahasa
Indonesia, maka disiplin adalah sikap kepatuhan terahadap peraturan atau nilai
nilai yang kita anggap dan kita percayai bisa membawa kita mencapai tujuan yang
kita inginkan. Dalam konteks kehidupan berbangsa maka maka kepatuhan itu disandarkan
pada peraturan peraturan yang dibuat oleh bangsa dan negara sebagai upaya
menertibkan perilaku warganya, sehingga tercapailah tujuan dari kehidupan
berbangsa dan bernegara. Begitulah sekelumit tentang pengertian Disiplin. Baiklah,
sekarang mari kita lihat kedisiplinan bangsa Han atau bangsa Korea Selatan.
Kepatuhan terlihat
dalam kehidupan berlalu lintas di jalan raya. Beberapa pengamat social kita
juga sering menyebutkan, kalua ingin melihat budaya suatu masyarakat, maka
lihatlah di jalan raya. Nampaknya ini ada betulnya. Karena di jalan raya itu
kan terlihat bagaimana kedisiplinan kita, toleransi kita, dan bagaimana cara
kita berkomunikasi…juga akan terlihat disini. Mari segera kita lihat
perbedaanya dengan masyrakat kita.
Ketika Lampu merah di
Traffic Light. Selama dua tahun di Korea Selatan, penulis tidak pernah melihat
adanya pelanggaran terhadap lampu merah. Meski hanya sekali, penulis tidak pernah
melihat adanya pelanggaran atau pengguna jalan yang melanggar/menerobos lampu
merah. Sementara di tempat kita ini, masih sering kita lihat, para pengguna
jalan yang menerobos lampu merah dengan berbagai alasan. Misalnya, karena
terburu-buru, terlambat dan lain lain. Apapun alasanya, itu menunjukan ketidakdisiplinan.
Ketika menyeberang
jalan. Dalam berlalu lintas, tentu saja kita sering para pejalan kaki
menyeberang jalan. Dan kalua mau disiplin, maka penyeberang jalan itu hanya
boleh menyeberang di Zebra Cross yang sudah disediakan. Bangsa Korea sangat
mematuhi ini. Sehingga setiap orang akan menyeberang jalan hanya di Zebra
Cross. Sekalipun orang tersebut agak jauh dari Zebra Cross, maka orang tersebut
akan bergesar ke Area Zebra Cross untuk menyeberang dengan selamat. Bahkan cara
menyeberangpun sangat Disiplin. Antara yang menyeberang searah dengan kita dan
yang berlawanan arah dengan kita dipisah jalurnya. Yang menyeberang searah denga kita
menyeberang di sisi kanan, sementara yang berlawanan dengan kita berada di sisi
sebelah kiri. Dan ini sangat dipatuhi oleh mereka, sehingga tidak ada ceritanya
orang yang menyeberang berlawanan arah dengan penyeberang lainnya. Sementara di
tempat kita, masih banyak orang yang menyeberang tidak pada tempatnya. Tidak di
Zebra Cross atau di jembatan peneyeberangan yang sudah disediakan. Sangat
memprihatinkan…
Turun dari bus. Bagi
kita di sini, masalah naik atau turun dari bus mungkin saja sebagai suatu hal
yang sepeleh. Tapi di Korea selatan, hal ini sangat diperhatikan dan harus
dilakukan dengan tertib. Ketertiban dan kedisiplinan itu terlihat dari tata
cara mereka naik bus. Jadi, ketika kita akan naik bus, maka kita masuk ke bus
melalui pintu depan. Tidak boleh dan tidak ada ceritanya penumpang naik bus
dari pintu belakang. Demikian juga pada saat turun dari bus, semua penumpang
turun dari pintu belakang. Sehingga tidak pernah ada ceritanya penumpang turun
dari bus melalui pintu depan. Dengan demikian, antara penumpang yang naik dan
turun sama sama terasa nyaman. Tidak ada srobot srobotan. Menarik bukan…..
Menunggu atau mencari
Bus. Kita yang hidup di perkotaan tentu tidak asing lagi dengan Halte Bus.
Halte bus digunakan para calon penumpang bus untuk menunggu kedatangan bus. Di
Korea Selatan semua calon penumpang bus harus dan hanya menunggu di Halte bus,
jika mereka ingin menggunakan jasa bus untuk bepergian. Meskipun rumahnya jauh
dari halte, tetap saja mereka disiplin berjalan kaki menuju halte Bus. Jadi,
semua bus dan penumpang hanya berhenti di Halte bus. Sementara di tempat kita,
masih ada penumpang yang enggan jalan kaki menuju halte bus. Sehingga mereka
menunggu di sembarang tempat. Tentu ini akan mengganggu kenyaman para penumpang
bus yang harus sering berhenti. Dan juga mengganggu pengguna jalan yang
lainnya, karena bus tiba tiba berhenti di tengah jalan untuk ambil penumpang.
Nah…begitulah potret
kedisiplinan warga Korea Selatan di Jalan Raya. Seperti kata para pengamat social
“bahwa kalua mau melihat budaya suatu masyarakat, maka lihatlah di jalan raya”.
Maka begitu juga, budaya masyarakat Korea yang penuh dengan budaya kedisiplinan
dalam berbagai kehidupan mereka. Semoga kita bias meningkatka kedisiplinan
bangsa kita. Dimulai dari diri sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar