(Dok Pribadi; Satu sudut Kota di Korea Selatan, Jauh dari kesan kotor)
Surabaya, 7 Mei 2019. Kebersihan adalah pangkal kesehatan
begitulah moto yang sering kita dengar. Siapa yang tidak ingin hidup sehat???
Semua orang pasti ingin hidup sehat. Karena kesehatan itu mahal harganya broo….
Dan bisa tikatakan tidak ternilai. Karena seorang yang kaya raya sekalipun
kalua sudah sakit parah, kadangkala kekayaannya tidak bisa menolong memperbaiki
kesehatannya. Sesuai dengan moto atau semboyan di atas, maka untuk bisa hidup
yang sehat, tentu dimulai dari gaya hidup yang bersih. Tapi sayangnya, tidak
semua masyarakat mau dan memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan di
lingkungan sekitar kita. Nah…artikel saya kali ini akan mengajak pembaca jalan
jalan ke negeri Ginseng Korea Selatan dan kota Surabaya. Mungkin anda bertanya
tanya…kenapa harus negeri Ginseng dan Kota Surabaya…????? Yaaa karena Negeri
Ginseng Korea Selatan memiliki kondisi lingkunganyang tertata dan terjaga
kebersihannya ditambah dengan banyaknya taman taman kota. Sehingga kota menjadi
lebih bersih segar dan indah. Dan kenapa juga harus Kota Surabaya. Yaaa karena
Kota Surabaya punya sister city di Korea selatan yaitu Busan. Sehingga
perkembangan kota Surabaya saat ini sangat tertata dan bersih juga penuh dengan
taman kota. Menjadikan Kota Surabaya mengarah seperti kota kota di Korea
Selatan. Baiklah segera kita mulai berjalan jalan melihat lihat kota di Korea
selatan.
Korea Selatan dengan kedisiplinan warganya yang sangat
tinggi, juga mewarnai kehidupan mereka sehari hari dalam menjaga kebersihan
lingkungan sekitar. Artinya kesadaran kolektif dari semua warga untuk ikut
menjaga kebersihan. Jadi, bersihnya lingkungan sekitar, lebih dikarenakan warga
secara umum, bukan karena banyaknya petugaskebersihan. Waga sudah sangat sudah sadar bahwa sampah itu harus dibuang di
tempat sampah, bukan dibuang di sembarang tempat. Beberapa contoh kejadian
kecil berikut ini, akan menjadi perbandingan, dengan harapan menjadi inspirasi
kita semua untuk bisa berperilaku hidup bersih dan sehat seperti mereka.
Pertama. Ketika ada seseorang didalam bus, atau di tempat
umum/ruang public (terminal, bandara, taman kota) membuka permen atau membuka
makanan dari bungkusnya sementara di sekitarnya tidak terdapat tempat sampah,
maka bungkus permen atau bungkus makanan tersebut tidak lantas di buang
semabarangan. Tapi justru dilipat rapi sampai kecil kemudian dimasukan saku
atau dimasukan tas. Dan kalau suatu saat bertemu dengan tong sampah, maka
sampah bungkus permen atau plastic bungkus makanan itu akan segera dimasukan
tong sampah. Sementara di tempat kita ini secara umum masih sedikit yang
memiliki kesadaran semacam itu. Yang banyak justru belum punya kesadaran
semacam itu. Maka tidak heran jika di tempat kita saat ini, masih sering kita
lihat orang membuang sampah ke jalan dari dalam mobil. Masih sering juga kita
lihat, orang kita masih sering membuang sampah ke sungai. Bagaimana dengan kota
Surabaya? Di kota Surabaya sebagai sister city Busan Korea Selatan, juga sudah
mulai mengarah seperti Korea selatan. Di hampir setiap sudut kota di tempat
tempat umum di Surabaya, sudah mulai terjaga kebersihannya. Bahkan di jalan
akses yang menuju jembatan Suramadu, sudah disediakan truk modifikasi sehingga
bisa dipakai untuk menyapu atau membersihkan jalan dari sampah sampah. Menarik
bukan…..
Kedua, meminimalisasi terbentuknya sampah. Kebiasaan
masyarakat Korea Selatan untuk meminimalisasi terjadinya sampah, juga terlihat
dalam kehidupan sehari hari dan juga dalam proses recycle sampah yang bisa di
daur ulang. Sebagai contoh, ketika sedang memasak bahan makanan seperti sayur
mayur, maka sebisa mungkin semua bahan sayuran dari ujung akar sampai ujung
daun dipakai semua asalkan bisa dimakan. Dengan demikian sampah domestic menjadi
lebih sedikit. Demikian juga dengan sampah industry, diperlakukan dengan cara daur
ulang. Perilaku lainnya, adalah pengurangan penggunaan tas belanja dari
plastic. Saat ini, kalua kita belanja di pasar pasar modern, kalua kita minta
tas plastic maka kita diwajibkan membayar. Bayaran itu bukan untuk membeli tas
plastic itu. Tapi sebagai biaya pennghancuran sampah plastic yang kita pakai
itu. Cara ini sudah dipakai Korea Selatan sejak beberapa puluh tahun yang lalu.
Selain itu, dari warganya sendiri banyak yang suka berbelanja dengan membawa
sendiri tas kain dari rumah. Inilah beberapa contoh perilaku sadar kebersihan
yang dimiliki warga Korea selatan. Bagaimana dengan di Surabaya??? Di Surabaya
juga sudah mulai banyak perilaku perilaku untuk mengurangi jumlah sampah.
Diantaranya, pembuatan kompos secara massal untuk warga Surabaya yang
melibatkan berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat, lembaga lembaga Perguruan
Tinggi, dan ormas ormas yang bergerak di bidang Kebersihan dan Lingkungan. Mereka
semua ini memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang pengelolaan
sampah yang benar da juga bermanfaat. Dengan ketrampilan ini, banyak masyarakat
yang kemudian punya penghasilan tambahan dengan memproduksi kompos.
Itulah beberapa perilaku masyarakat yang sadar akan
kebersihan di lingkungannya. Semoga ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua
bisa memiliki gaya hidup yang bersih dan sehat. AAmiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar